21.12.2011 16:00    Comments: 0    Categories: Interview     

“Orang yang tidak menggunakan kontrasepsi atau penggunaan yang tidak tepat merupakan masalah besar. Ketika seorang wanita menyadari bahwa ia secara tidak sengaja hamil, maka ia akan masuk ke dalam suatu krisis, baik secara psikologis, sosial, dan keuangan,” kata Prof. dr. Biran Affandi, SpOG kepada bee-health ketika ditanyakan tentang problematika penggunaan kontrasepsi di Indonesia.

 

Kehamilan yang tidak direncanakan terjadi akibat rendahnya pemahaman tentang kontrasepsi dan penggunaan alat kontrasepsi yang tidak sesuai dengan kebutuhan pengguna. Hal tersebut akan berdampak pada munculnya persoalan individu yang berujung pada beban sosial yang cukup signifikan.

 

Di seluruh dunia, angka kehamilan yang tidak direncanakan mencapai 80 juta per tahun. Ketika 51 juta kehamilan yang tidak direncanakan tiap tahunnya pada wanita yang tidak menggunakan metode kontrasepsi, 25 juta kehamilan yang tidak direncanakan lainnya terjadi akibat penggunaan kontrasepsi yang salah atau tidak konsisten atau kegagalan metode.

 

Prof. Biran menambahkan, kontrasepsi adalah cara yang efektif mencegah kehamilan yang tidak direncanakan. Tingkat kehidupan yang berbeda akan memunculkan kebutuhan kontrasepsi yang berbeda pula. Karenanya kontrasepsi merupakan pilihan individu. Diperlukan sosialisasi dan edukasi untuk memberdayakan masyarakat dengan informasi yang benar agar masyarakat dapat membuat pilihan kontrasepsi dengan penuh kesadaran.

 

Sebagai suatu kebutuhan, kontrasepsi terkait dengan kebutuhan fisik dan sosial. Sebagai kebutuhan fisik, kontrasepsi memiliki peranan dalam setiap fase reproduksi, yaitu untuk menunda kehamilan, menjarangkan atau mengakhiri kesuburan, sehingga kontrasepsi yang digunakan sesuai dengan tujuan pengaturan kelahirannya dan kondisi fisik biologisnya.

 

“Sebagai kebutuhan sosial, kontrasepsi terkait dengan upaya mewujudkan program pembangunan suatu negara. Di Indonesia, program pembangunan sosial Keluarga Berencana (KB) mempunyai arti yang sangat penting dalam upaya mewujudkan manusia Indonesia sejahtera, di samping program pendidikan dan kesehatan,” ujar dokter kelahiran Bengkulu, 65 tahun silam ini.

 

Di samping itu pula, lanjut Prof. Biran, program KB dapat menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) 2-3 kali lipat, yakni dengan mengatasi 4 T: hamil dalam usia tua (Terlalu Tua), hamil dalam usia muda (Terlalu Muda), terlalu sering hamil (Terlalu Rapat), dan banyak anak (Terlalu Banyak).

 

Menurutnya, apabila semua keluarga di Indonesia hanya memiliki 2 orang anak, secara otomatis risiko kematian ibu akibat kehamilan, melahirkan dan nifas hanya terjadi dua kali. Kematian ibu yang terbesar terjadi pada ibu-ibu yang hamil pada usia tua dan hamil pada usia terlalu muda. Oleh sebab itu masyarakat perlu disadarkan untuk menunda menikah di usia muda dan mencegah kehamilan di atas usia 35 tahun. Keduanya dapat menekan AKI.

 

Perkembangan dan kemajuan riset dalam bidang kontrasepsi memberikan kontribusi positif terutama dalam meningkatkan kualitas hidup wanita sehingga para wanita di dunia tidak perlu khawatir atas dampak dari penggunaan kontrasepsi.

 

“Selain itu dari hasil riset yang kami lakukan, saat ini kontrasepsi tidak lagi hanya mencegah kehamilan, namun juga dibutuhkan untuk memberikan manfaat non kontraseptif seperti menjaga kestabilan berat badan dan membuat kulit tetap terawat,” kata Prof. Biran menutup pembicaraan. (bun)