
Ada sekitar 7-8 tamu yang menunggu untuk bertemu dengan dr. Kautsar, Direktur Utama Rumah Sakit Mata Cicendo, Bandung. Beruntung, bee-health diberi kesempatan pertama untuk menemuinya walaupun dengan waktu yang terbatas.
Wawancara dengan dr. Kautsar diawali dengan sejarah perjalanan Rumah Sakit Mata Cicendo. Menurut dokter yang merintis karir di RS Mata Cicendo sejak tahun 1997 sebagai Staf Sub-Bag Tumor Rekonstruksi Bagian Mata, RS Mata Cicendo didirikan tahun 1909 dengan tujuan awal menanggulangi wabah trakhoma. Direkturnya pada saat itu adalah dr. Westhoff berkebangsaan Belanda.
Di jaman pendudukan Jepang tahun 1942-1945, RS Mata Cicendo pernah menjadi rumah sakit umum yang berfungsi sebagai rumah sakit militer.
Pada tahun 1961, rumah sakit ini mulai digunakan oleh mahasiswa Fakultas kedokteran Universitas Padjadjaran. Tahun 1968 digunakan sebagai tempat pendidikan dokter spesialis mata dan sejak tahun 2007 sebagai tempat pendidikan dokter sub spesialis mata.
Di tahun 1992, pemerintah menetapkan RS Mata Cicendo sebagai Rumah Sakit Rujukan Mata Nasional. Selain dikembangkan beberapa pusat pelayanan unggulan seperti Pediatrik Oftalmologi, Vitreo-Retina, Galukoma dan Katarak Bedah Refraktif, juga diikuti pengembangan Pusat Pelatihan Oftalmologi dan Pusat Penelitian Mata melalui kerjasama dengan pihak-pihak luar.
Saat ini, RS Mata Cicendo berdiri di atas tanah seluas 11.400 m dengan jumlah 104 tempat tidur. Rata-rata kunjungan pasien rawat jalan adalah 450 per hari. Jumlah operasi 45-50 pasien per hari. Dengan adanya DLU (Dana Layanan Umum) di tahun-tahun belakangan ini, RS Mata Cicendo mampu secara otonom berbelanja cukup besar untuk rumah sakit secara mandiri di atas 5 milyar per tahunnya.
“Yang penting, harus ada balance dalam membelanjakan anggaran. Minimal dua atau tiga kali dari dana operasional. Katakanlah jika operasional 5 milyar per bulan, maka harus ada saldo minimal 10 milyar milik rumah sakit. Jadi jika ada sesuatu yang luar biasa, kita masih bisa running selama 2 bulan,” jelas dr. Kautsar yang asli putra daerah Bandung ini.
Hospital Without Wall
Operasi katarak merupakan operasi terbanyak yang ditangani Rumah Sakit Mata Cicendo. Ini sesuai dengan prinsip Hospital Without Wall yang dianut rumah sakit. Jika diibaratkan sepakbola, rumah sakit biasanya berperan seperti kiper, di mana jika ada bola ditangkap dan jika tidak ada bola hanya diam, sekedar menunggu pasien datang.
Berbeda dengan RS Mata Cicendo yang mengenal kegiatan oftalmologi komunitas, di mana rumah sakit mendekatkan aksesibilitas pelayanan ke masyarakat. Artinya, bagaimana rumah sakit melakukan operasi ke daerah-daerah dari Aceh sampai Papua didatangi.
Tahun lalu, RS Mata Cicendo melakukan operasi 5.200 mata secara gratis untuk para pasien di luar rumah sakit sebagai tanggung jawab sosial rumah sakit kepada masyarakat. Inilah bentuk dari prinsip Hospital Without Wall. “Dinding yang kita tembus adalah dinding geografis, biaya, politik, dan sebagainya,” papar dr. Kautsar.
Di samping itu, salah satu misi rumah sakit adalah memberdayakan masyarakat. Kebutaan saat ini sangat tinggi mencapai prevalensi 1,5 persen. Jika angka penyakit sudah mencapai 1 persen maka sudah merupakan masalah sosial, bukan lagi masalah masyarakat ataupun klinik.
“Ini harus ditangani bersama. Artinya, bukan masalah kesehatan saja. Semua komponen masyarakat harus berperan aktif,” ujar dokter kelahiran 30 April 1953 menghimbau.
dr. Kautsar menambahkan, berapa banyak masyarakat di daerah pelosok yang mengalami kebutaan disebabkan tidak mengerti atau terbentur biaya. Karena itu sosialisasi dan promosi amat penting, di mana rumah sakit melakukan pemberdayaan kepada masyarakat agar mereka tahu tentang kebutaan. Karena itu RS Mata Cicendo mengadakan pelatihan-pelatihan atau seminar awam guna menjelaskan bagaimana mendeteksi kebutaan secara dini, baik untuk masyarakat awam, organisasi sosial maupun guru-guru SD.
Jumlah anak sekolah sekarang kurang lebih 65 juta dan 15% memerlukan kacamata. Kecuali gurunya, mereka tidak tahu apakah perlu memakai kacamata atau tidak. Gurunyalah yang diajarkan oleh pihak rumah sakit tentang kesehatan mata ini.
“Setelah guru-guru mengerti dan menentukan siapa saja yang harus memakai kacamata, maka kita datangi sekolah itu dan jika memang perlu kita berikan kacamata. Begitu juga dengan operasi katarak RS Cicendo selalu bekerjasama dengan LSM dan instansi-instansi lainnya,” ujar dr. Kautsar menutup wawancara. (bun)








